Ben memilih untuk masuk ke kamarnya terlebih dahulu, dilihatnya satu kantong plastik putih berisi sterofoam tergantung. Ada sticky notes tertulis di bagian luarnya
Nanti masuk kamar aja, nggak aku tutup
Ia lirik kamar depannya, dari celahnya ia lihat Senayan yang asik menekuri layar ipad, terduduk di ujung kursi yang berbatasan langsung dengan jendela. Ada pendar lampu temaram membasuh wajahnya. Sedangkan laptopnya ia biarkan tergeletak menyala begitu saja di atas tempat tidur.
Menganti pakaianya dengan kaus putih polos dan celana tidur, berbersih secukupnya. Ia menenteng kantong plastik dan alat makan, lantas beranjak cepat menuju kamar di depannya. Ia ketuk pintunya, meskipun kemudian ada suara decakan dari dalam.
“KAN GUE BILANG NGGAK DI TUTUP, MASUK AJA”
Ben tetap diam tak beranjak, hanya tertawa tipis. Dari celah, ia lihat Senayan menahan kesal.
“MASUK AJAAA”
Ben tetap bergeming, Senayan berdecak kemudian bergerak dari kursinya menenteng bantal. Sebelum sempat Senayan membuka pintu lebar, Ben mundur satu langkah. Beruntung ayunan bantal untung tak mengenai dirinya.
“MASUK” Senanyan mendengus
“Jangan dibiasain untuk biarin pintu kebuka kayak gini. Bahaya.”
“Kan biar cepeet, gue lagi sibuk.”
“Udah malem, untung itu gue. Kalau yang lain?”
“Iya!Iya! Yaudah, sini masuk, bentar gue lagi nyelesain SEMPAK HARI INI.”
Senayan menunjukan layar ipadnya, ada beberapa jurnal harian yang di tulis mengenai makanan apa yang ia santap hari ini.
“Sempak hari ini?” Ben kebinggungan dengan ucapan Senayan barusan.
“Senayaan makan apaak hari ini? Hehe, niatnya sih cuma kayak buat track foods gitu, udah jajan apa hari ini, kalorinya berapa, udah cukup belum gizinya, boros banget nggak gue hari ini. Terus gue tulis juga apa yang gue rasain waktu makan itu, ada wawancara kecil-kecil sama pedagangnya.” Senayan menjelaskan dengan mata berbinar, sambil menunjuk beberapa coretan yang ada di layar ipadnya.
“Teruss nanti jurnal ini bakalan gue pakai buat kalau gue mau jalan-jalan lagi!” Senayan mengakhiri kalimatnya, Ben hanya melihatnya dengan lamat-lamat.
“Nah sekarang lo makan bakminya, nanti bilang gue mau kasih bintang berapa ya! Biar nanti aku masukin jurnal sekaliaan.” Senayan lantas beranjak dari kursi yang ia tempati, merebahkan dirinya pada kasur empuk kemudian melihat beberapa film di aplikasi daring.
“Sen duduk aja. Nggak enak kalo sambil tiduran.”
“Ohiya ya? Oke bentar. Loh eeh Ben sekalian dong itu pintunya belum ditutup, gimanasih?”